Senin, 18 Mei 2015

TRIK KHUSUS MENYEHATKAN IKAN LELE


Pembudidaya harus memperhatikan kesehatan lele dan lingkungan budidaya.
Hujan turun yang tidak menentu bisa mengganggu proses budidaya ikan berkumis ini hingga menimbulkan kematian. Curah hujan tinggi seharian penuh dan tanpa perlindungan tambahan menyebabkan lele siap panen berukuran 5 ekor/kg milik salah seorang pembudidaya lele sistem bioflok di Sukabumi, Jawa Barat, mengalami kematian massal. Akibatnya, pembudidaya rugi dan kehilangan sebanyak 180 kg lele siap panen. Lantas, bagaimana mencegahnya?
Waspada Hujan
Menurut Kesit Tisna Wibawa, perekayasa di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat, hujan yang datang terus menerus bisa menyebabkan rendahnya kualitas lingkungan budidaya secara mendadak. Yaitu: perubahan derajat keasaman (pH), fluktuasi suhu, kematian plankton dan bakteri bermanfaat, dominasi amonium, hingga penumpukan logam berat yang terbawa air hujan.
Perubahan lingkungan budidaya yang mendadak membuat lele kaget dan menjadi stres. “Awalnya pasti stres, nggak mau makan, terus imun tubuh menurun karena tidak ada nutrisi yang mendukung dia, hasilnya rentan penyakit. Penyakit akan gampang menyerang ditambah dengan kondisi lingkungan yang tidak mendukung,” ulas Kesit terperinci. Apalagi pada budidaya lele sistem probiotik dan bioflok yang mengandalkan padat tebar tinggi, kualitas air kolam budidaya memerlukan perhatian intensif. Salah kelola, kerugianlah yang didapat.
Secara fisik, lele stres terlihat pucat dengan produksi lendir meningkat sehingga lapisan lendirnya menipis dan aktif melompat-lompat di di pinggiran kolam. Kesit menjabarkan, “Kalau lendirinya tipis, akan mudah ditempeli jamur. Apalagi dia bergesekan sama temennya, akhirnya ada yang luka. Di situ mulai diserang.” Kolam yang awalnya hijau atau cokelat juga akan berubah menjadi bening karena kematian plankton dan bakteri. Lele juga bisa keracunan amonium yang mendorong kematian massal secara mendadak. Jika kondisi ini dibiarkan, dalam hitungan jam hingga dua hari, lele yang dibudidaya mulai menggantung di permukaan air, respon makan hilang, kemudian mati massal.
Imunostimulan
Menurut Kesit, saat cuaca tidak menentu antara panas dan hujan, kunci utama keberhasilan budidaya adalah kesehatan ikan. Caranya dengan meningkatkan daya tahan tubuh pemilik nama ilmiah Clarias battracus itu dengan memberikan imunostimulan dan vitamin. “Itu harus selalu tersedia. Karena kalau sudah lingkungan yang penyebabnya, tidak ada cara lagi kecuali kita harus membikin daya tahan tubuh lele benar-benar kuat,” papar penemu kolam sistem paket padat tebar tinggi (budidaya lele sistem probiotik) ini.
Kesit menerangkan, saat musim penghujan dengan intensitas tinggi nafsu makan lele akan berkurang sehingga mudah terserang penyakit. Imunostimulan meningkatkan daya tahan lele dengan cara mendorong nafsu makan seperti pada cuaca normal. Ia menyarankan penggunaan imunostimulan herbal yang mengandung ekstrak bawang putih, kencur, rumput teki, dan bakteri Bacillus karena efeknya lebih terlihat. Imunostimulan ini diberikan cukup satu hari sekali jika hujan berlangsung terus menerus. Bilaintensitas hujan mulai menurun, imunostimulan cukup diimbuhkan 2 – 7 hari sekali.

Sementara, pemberian vitamin C akan memberikan efek hangat dalam tubuh ikan sehingga nyaman untuk makan. Vitamin rutin disajikan sekali setiap hari sesuai dosis yang tertera pada label kemasan. Kesit memberikan dua jenis pakan, yaitu pakan apung dan pakan tenggelam. Pakan apung diberikan berdasarkan adlibitum (sekenyangnya),sedangkan pakan tenggelam sebanyak 3% – 5% bobot tubuh. “Karena kalau pakan apung dia kenyang atau tidak ‘kan kelihatan dari respon makan dan kecepatan makannya,” ulas dia.
Lingkungan Budidaya
Untuk menjaga lingkungan budidaya, sambung Kesit, perlu perlakuan khusus seperti penambahan kapur dolomit atau kapur tohor sebanyak 15 – 25 gr/m3 sore hari. “Tergantung ukuran ikan. Kalau masih ukuran 3 – 7 cm, kasih 15 gr/m3,” sarannya. Penambahan kapur bertujuan menstabilkan pH agar perairan tidak masam dan perubahan suhu tidak terlalu rendah. Suhu air pada cuaca normal berkisar 26° – 29°C. Namun, saat musim penghujan suhu bisa turun hingga 24°C. Yang harus dihindarkan pembudidaya, imbuhnya, suhu meluncur tajam dari 29°C langsung ke 24°C.
Selanjutnya, tambahkan mineral air berupa garam dengan dosis sebanyak dolomit selepas hujan turun. Probiotik pun wajib diberikan. Probiotik bermanfaat menguraikan sisa-sisa makanan yang terbuang dan menjaga kestabilan komposisi bakteri dalam air. Kesit mengingatkan,  setidaknya probiotik harus mengandung dua jenis bakteri. Yakni, bakteri yang berfungsi untuk menguraikan nitrit seperti Bacillus atau Nitrobacter dan bakteri yang menguraikan amoniak, seperti Nitrosomonas.
Kolam yang berbau terjdi karena banyak sisa pakan dan menghasilkan amoniak. Ini memerlukan kerja bakteri Nitrosomonas untuk menguraikan amoniak agar tidak meracuni ikan. Amoniak diurai menjadi nitrit. Selanjutnya, nitrit dimanfaatkan Bacillus atau Nitrobacter menjadi nitrat yang dimanfaatkan sebagai unsur hara bagi fitoplankton. Kesit menilai, hal inilah yang kurang diperhatikan pembudidaya. Mereka memberikan probiotik tanpa melihat komposisi bakteri yang terkandung di dalamnya sehingga probiotik tidak bisa bekerja secara efektif. “Makanya banyak kejadian kolam bau walaupun dikasih probiotik yang harganya mahal, itu karena fungsinya tidak sesuai,”cetusnya.
Kandungan amoniak tinggi akan sangat bahaya kala hujanturun. Polutan kondisi air yang menurun karena amoniak tinggi masih dibebani tambahan polutan logam berat atau asam yang terbawa air hujan. Lele pun semakin stres.
Windi Listianingsih
Sumber: http://www.agrina-online.com

KETINGGIAN AIR IDEAL BUDIDAYA LELE CEPAT 60 HARI PANEN

LELE HANYA BUTUH KETINGGIAN AIR KOLAM 35 CM

Hari ini saya berdiskusi sangat panjang mulai jam 3 sore hingga 12 malam dengan seorang master lele di kota Banda Aceh bernama Nandar, beliau adalah seorang perwira Polisi yang berdinas di Polda Aceh yang ikut menggeluti bisnis Budidaya Ikan Lele bersama istri tercintanya sejak 5 tahun yang lalu hingga kini.
Hari ini saya berkesempatan meninjau langsung panen lele di 4 kolam dari 50 kolam miliknya di kawasan pinggiran kota dan sekaligus mengunjungi sebuah Ruko tempat pemasaran ikan lele hasil panen kolamnya dan kolam para mitra setiap hari. Dia juga menyewa 5 lapak dagang ikan di 5 pasar ikan tradisional dengan menempatkan orang-orang kepercayaannya yang berjualan langsung hasil panennya kepada konsumen tanpa melalui perantara pengepul maupun tengkulak.
Menariknya, dia kini memiliki 42 orang petani lele binaannya yang siap ia tampung hasil panen mereka dengan harga tertinggi antara Rp.18.000,- s/dRp.20.000,- per-Kg dengan sistem pembayaran “Cash” di lokasi kolam petani. Harga itu adalah yang tertinggi saat ini daripada harga yang ditawarkan oleh para pengepul lainnya di kota itu yang masih membeli panen petani lele hanya Rp.17.000,- s/d Rp.17.500,- per-Kg dan itupun seringnya dengan pembayaran tunda (hutang) selama 3-12 hari.
Menurut Nandar, selama ini para pengepul-lah yang telah mematikan harapan dan masa depan para petani lele, karena ulah mereka yang selalu membeli lele konsumsi dengan cara HUTANG pada petani, dan pada umumnya melakukan pembayarannya bertahap, yaitu sedikit demi sedikit. Akibatnya petani lele yang tak memiliki modal kuat untuk melanjutkan budidaya lele pasca panen harus gulung terpal dan banting stir ke bisnis lain, itu semua lantaran pembayaran dari para pengepul yang selalu seret alias macet.
Nandar, adalah salah satu dari dua orang pembudidaya lele di kota itu yang berani membeli hasil panen petani binaannya sendiri dengan cara Cash (bayar kontan) selama 5 tahun terakhir ini dan langsung jemput ikannya di kolam petani dengan dua armada pick-up nya. Pemasaran langsung kepada konsumen dia lakukan karena dahulu sudah pernah menjadi korban para pengepul yang sulit membayar ikan hasil panennya.
Dari amatan kami di lokasi tadi sore, yang juga menarik adalah 50 kolam milik Nandar tidak ada yang tinggi, semua kolam lele milik-nya ketinggiannya hanya 50 cm dengan ketinggian Air Hijau 30-35 cm dan sistem tebar benih lele normal rata-rata 200 s/d 250 ekor per-meter kubik.
Menurut pengalaman dia, benih lele ukuran 5-6 cm atau 7-8 cm memang lebih ideal dipelihara dengan ketinggian air hijau 30-35 cm saja, tujuannya agar nanti banyak menghasilkan ukuran panen yang sama. Alasannya, benih ikan lele tak semuanya mampu mencapai ketinggian pakan yang ditebar di atas permukaan air kolam pada ketinggian air lebih dari 40-70 cm.
Dengan ketinggian air kolam 30-35 cm, maka akan semakin mempermudah bagi benih lele untuk naik mencapai permukaan air kolam saat akan makan pelet, sehingga tidak begitu banyak membuang energi lele agar bisa besar dan berat yang sama pada saat panen dalam 60 hari.
Jika ketinggian air kolam lebih dari 40-70 cm, maka akibatnya tak semua benih lele akan mampu makan lebih banyak, karena umumnya kesulitan mencapai permukaan air kolam secara berulang kali. Karena sesungguhnya lele budidaya itu kegiatannya hanya makan dan tidur.
Nanda sudah pernah menggunakan puluhan kolam dgn ketingian air hingga 70 cm, namun hasilnya kurang memuaskan, saat di sortir terlalu banyak ukuran lele yang belum layak panen dalam 60 hari budidaya.
Untuk menjaga suhu air kolam agar tetap stabil, dia menyarankan agar menggunakan kolam terpal dengan dinding kayu (bukan kolam beton atau tanah), dan pada lantai kolam terpal diberi serbuk kayu hasil gergaji atau sekam padi setebal 10-20 cm serta tetap menghijaukan air kolam.
Khusus untuk pakan lele, Nandar bersama 42 petani binaannya selama ini melakukan pemberian pakan kombinasi antara pelet dan usus ayam atau limbah ikan dari pasar ikan sehingga biaya produksi dapat ditekan serendah mungkin agar mendapatkan keuntungan yang lebih besar, namun tidak mengurangi bobot ikan saat panen.
Strategi dalam 5 tahun terakhir yang ia lakukan adalah, saat penebaran benih ukuran 5-6 cm atau 7-8 cm diberikan pakan pelet pabrik F999 serta 781 (-1) selama 25 hari (bulan ke 1), selanjutnya dari hari ke 26 hingga hari 60 (bulan ke 2) ikan lele sudah bisa diberikan rebusan usus ayam atau limbah ikan dari pasar ikan seperti kepala ikan, sirip, insang dan isi perut ikan yang direbus pada suhu 80-100 derajat celsius, diberikan sebanyak 2 kali sehari hingga masuk masa panen di hari ke 60.
Dari amatan kami ke kolam-kolam Nandar, semua ikan lelenya memang sehat dan gesit dibalik air kolam berwarna hijau. Semoga informasi hasil diskusi dan investigasi ini dapat memberikan alternatif lain dalam Budidaya Ikan Lele di Indonesia.
Mohon saran dan kritik dari para master kumis . . . . semoga bermanfaat .
diambil dari beberapa sumber. . . .

SOP BUDIDAYA LELE DAN TRIK SUKSES . . . .

SOP BUDIDAYA IKAN LELE 
Kebanyakan para pedagang benih ikan lele tak paham cara pembesaran ikan lele yang baik dan benar, sebab mereka hanyalah pedagang (agen) yang mencari keuntungan ditengah-tengah antara petani pembenih lele dengan petani pembesar lele. Sebab itu setiap benih yang berhasil terjual kepada pelanggan sudah tidak menjadi tanggung jawabnya lagi alias barang yang sudah dibeli tidak bisa di kembalikan (mereka buang badan).
Sementara itu para pemula (newbie) budidaya ikan lele pun sering sekali mensederhanakan persoalan budidaya lele itu, mentang-mentang harga benih lele hanya kisaran Rp.200 per-ekor, dikira dengan hanya diberi air apa saja pada kolam, ikan-ikan itu sudah pasti akan bisa hidup dengan aman.
Pada bagian lain, para pengarang buku dan artikel tentang budidaya lele juga kerap mensederhanakan permasalahan budidaya tersebut. Sering kita baca di buku-buku karangan mereka tentang ungkapan bahwa ikan lele bisa hidup pada “air dengan kondisi yang buruk sekalipun”. Tetapi fakta-fakta dilapangan tidaklah demikian adanya, benih-benih ikan lele banyak yang mati di tangan para pemula pembesaran lele, para pemula pun panik dan akhirnya patah arang serta berhenti melakukan kegiatan pembudidaya ikan lele, untung saja tak sampai bunuh diri.
Berdasarkan pengalaman dan ujicoba penulis selama 2,5 tahun terakhir dibidang ini, mungkin tak berlebihan bila penulis membuat sebuah panduan teknis budidaya ikan lele bagi para pemula sesuai dengan perubahan-perubahan yang terjadi di lapangan. Apalagi setiap daerah tak pernah sama kualitas sumber airnya, tak pernah sama suhu udaranya maupun lingkungannya.
A. PERSIAPAN AIR KOLAM (Kolam Ukuran 4 X 2 X 1 Meter)
Sumber air kolam biasanya dari sumur patek, sumur bor ataupun PDAM. Jika Anda menggunakan air PDAM, maka air tersebut penting di endapkan dahulu dalam 2 hari dibawah sinar matahari agar kandungan kaforitnya hilang dan menguap ke udara. Sebab benih lele tak tahan dengan air yang berkaforit.
Jika sumber air Anda adalah dari sumur ataupun sumur bor, biasanya air itu mengandung logam berat seperti zat besi (Fe), Mangan (Mn), Tembaga (Cu) dan bahkan beberapa sumur mengandung Mercury yang tak membuat benih lele nyaman dan aman. Kualitas air seperti itu penting untuk diolah terlebih dahulu.
Pengolahan air sumur atau sumur bor yang paling baik adalah menggunakan tabung filter Karbon dan Mangnese, sebelum air di masukkan ke kolam ikan lele. Jika Anda tak memiliki tabung filter Karbon dan Magnese bisa saja menggunakan Kapur Dolomit 300 Gram/M3.
Jika kolam anda berukuran Panjang 4 Meter X Lebar 2 Meter X Tinggi 1 Meter dengan ketinggian air kolam 70 cm, maka kebutuhan Kapur Dolomit untuk luas kolam itu adalah : 4 X 2 X 0,7 X 300 Gram Dolomit = 1,7 Kg.
Taburkan merata Kapur Dolomit diatas pemukaan air 70 cm itu, dan dalam 5-6 jam setelah penaburan Dolomit kandungan logam berat pada air akan menghilang dan aman buat benih ikan Anda.
Jangan buru-buru beli benih ikan lele, sebab kolam Anda penting sekali airnya dihijaukan dahulu agar dapat ditumbuhi oleh Alga dalam 5-6 hari dengan menggunakan pupuk Urea dan NPK. Sebab fungsi Alga dalam air kolam itu sangat penting untuk mengendalikan suhu air kolam agar tak terlalu panas saat siang hari dan tak terlalu dingin saat malam hari serta menghasilkan plankton-plankton sebagai pakan tambahan lele.
B. CARA HIJAUKAN AIR KOLAM IKAN LELE DENGAN PUPUK UREA DAN NPK
a. Pupuk Urea 3 PPM (Part Per Million) atau 3 gram/m3 air kolam.
b. Pupuk NPK 1 PPM (Part Per Million) atau 1 gram/m3 air kolam.
Jika kolam kita berukuran 4 X 2 meter dengan tinggi air 70 cm, maka kebutuhan pupuk Urea untuk kolam itu adalah : 4 X 2 X 0,7 X 3 Gram Urea / M3 = 16,8 Gram Urea.
Sementara untuk pupuk NPK adalah : 4 X 2 X 0,7 X 1 Gram NPK / M3 = 5,6 Gram NPK. Larutkan kedua bahan pupuk itu dengan air, lalu tebarkan merata disemua permukaan kolam Anda. Saran penulis, gunakan timbangan DIGITAL untuk bahan kue, agar lebih akurat. Harga timbangan Digital di toko kelontong atau toko pecah belah hanya kisaran Rp.50.000 s/d Rp.100.000,-
Biarkan air kolam yang sudah diberi Dolomit, Urea dan NPK itu selama 5-6 hari dibawah sinar matahari sampai air-nya berwarna hijau, kalau air kolam belum hijau boleh ditambahkan lagi Pupuk Urea 1 PPM atau 1 Gram/M3.
Warna air kolam nantinya memang tidak terlalu hijau sekali, tetapi ini sangat aman bagi benih lele. Hijau air dengan pertumbuhan Alga akan terus bertambah hijau dari hari ke hari seiring dengan bertambahannya kotoran ikan pada kolam. Kotoran ikan dan sisa pakan yang mengendap di dasar kolam akan menjadi pakan / nutrisi bagi perkembangan Alga tersebut. Alga yang akan berkembang dikolam nanti diduga adalah Alga Chlorella ataupun Alga Scenedesmus.
C. PENEBARAN BENIH IKAN LELE PADA KOLAM
Setelah air hijau dalam 5-6 hari, maka pada hari ke 7-8 silahkan Anda beli benih lele di pasar atau di Farm. Untuk tebar benih kolam normal, maka jika ukuran kolam Anda adalah 4 X 2 meter dengan tinggi air 70 cm, maka jumlah benih lele yang Ideal anda tebar adalah : 4 X 2 X 0,7 X 250 ekor/M3 = 1.400 ekor.
Pilih waktu penebaran benih pada sore atau malam hari, maka saat membeli dan membawa benih dari pedagang atau Farm sebaiknya pada sore hari ke kolam Anda, karena pada waktu sore atau malam hari suhu air sudah sedikit dingin sehingga mudah bagi benih lele melakukan penyesuaian suhu air dengan suhu tubuhnya.
Jika Anda ingin tebar benih lebih padat lagi pada kolam ukuran itu, maka kolam Anda harus dilengkapi dengan peralatan suplai Oxygen sepertiVenturi Air System (VAS), sehingga kolam ukuran 4 X 2 meter itu bisa anda isi 800 ekor/M3 atau 4.400 ekor dengan aman dan nyaman. Jika tak didukung oleh VAS, jangan pernah mencoba menebar benih yang padat, sebab lele akan mati lantaran kekurangan Oxygen terlarut di dalam air. Mengenai VAS bisa Anda lihat pada artikel lain di Group ini.
D. CARA PEMBERIAN PAKAN / PELET YANG AMAN BAGI BENIH LELE
Penting untuk diketahui bahwa pelet kering yang langsung ditaburkan ke kolam dapat merusak pencernaan ikan lele, sebab pakan / pelet itu masih terlalu keras. Sebaiknya pelet dibibis dahulu dengan Probiotik RABAL yang dibuat sendiri. Karena Probiotik RABAL mengandung bakteri Lactobacillus dan Yeast yang sangat membantu keamanan pencernaan benih lele serta mengurai dan mengurangi Amoniak lele pada air kolam.
Probiotik hasil fermentasi Ragi dan Bakteri Asam Laktat (RABAL) yang akan kita produksi sendiri ini berisikan Lactobacillus dan Yeast. Dari hasil penelitian Prof Ibnu Sahidhir dan kawan-kawan di Laboratorium Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Ujung Batee, Provinsi Aceh terhadap 4 merek Probiotik terkenal untuk ikan air tawar yang beredar di pasaran saat ini mengadung isi yang serupa.
Probiotik RABAL yang akan kita produksi sendiri ini tentu dengan biaya yang sangat murah, digunakan untuk membibis pakan/pelet ikan lele pada kolam hijau atau Green Water System (GWS), guna :
1. Meningkatkan nafsu makan dan pertumbuhan ikan lele.
2. Mempercepat waktu panen dan menghemat pakan / pelet.
3. Meningkatkan bobot ikan lele.
4. Meningkatkan penyerapan protein dari Alga air kolam dan pelet agar menjadi daging secara maksimal.
5. Menghilangkan / mengurangi bau air kolam GWS akibat amoniak dan gas beracun.
PROSES PEMBUATAN PROBIOTIK RABAL :
1. Bahan-Bahan :
a. Air Bersih / Isi Ulang = 9 liter.
b. Yakult = 2 botol.
c. Ragi Tape = 1 butir
d. Molasses (Tetes Tebu / Gula Jawa / Gula Merah) = 1/2 liter.
e. Air Kelapa Murni (dari 1 butir buah kelapa yang sudah tua)
e. Jerigen 10 liter = 1 unit
2. Cara Mengolah Bahan Probiotik RABAL :
Masukkan air bersih / air isi ulang sebanyak 9 liter ke dalam Jerigen bersih, kemudian tuangkan 2 botol Yakult, 1/2 liter Molasses / 2 butir Gula Jawa yang dicairkan, 1 butir Ragi Tape (yg sudah di tumbuk halus) dan Air Kelapa Murni ke dalam Jeringen yang telah berisi air bersih. Kocok jerigen selama 5-8 menit agar semua bahan-bahan terlarut merata di dalam jerigen.
Gula Merah / Molases yang dipanaskan agar mencair, seharusnya di dinginkan dahulu sebelum di campur dengan bahan-bahan lainnya diatas.
Simpan jerigen beserta bahan-bahan tersebut selama 7 hari agar terjadi proses fermentasi dengan sempurna yang akan di tandai dengan cairan di dalam jerigen berubah warna menjadi coklat / orange dan berbau alkohol / tape. Setiap 1-2 hari sekali tutup jeringen dibuka untuk mengeluarkan gas fermentasi, lalu jeringen ditutup rapat kembali dan disimpan di ruangan yg sejuk.
F. PROSES PEMBIBISAN PROBIOTIK RABAL PADA PELET :
Setelah 7 hari masa fermentasi bahan Probiotik RABAL sudah dapat Anda gunakan untuk membibis pakan / pelet ikan lele pada kolam hijau atau Green Water System (GWS) dengan cara :
Campurkan 4-6 tutup botol Aqua hasil fermentasi Probiotik RABAL yang dilarutkan dengan 1/4 liter air. Aduk merata. Selanjutnya dikocorkan atau aduk cairan RABAL itu ke dalam 1 Kg pakan / pelet lele sampai meresap rata.
Biarkan pelet dan probiotik RABAL meresap dalam 10-20 menit sebelum kemudian diberikan kepada ikan lele. Pencampuran pelet dengan probiotik selama 10-20 menit baik untuk membantu proses pencernaan pakan pada usus ikan lele. Jika pelet yang Anda bibis tak habis diberikan pada benih lele, bisa Anda simpan untuk jadwal pemberian pakan selanjutnya.
SEMOGA BERMANFAAT . . .  MOHON Kritik dan saran perbaikan bagi para Master Kumis.    
Nuwun.

Jumat, 14 November 2014

Pakan ternak Alternatif kecil-kecil besar Manfaat



 METODE BUDIDAYA AZOLLA SEBAGAI SUMBER PAKAN ALTERNATIF KAYA PROTEIN
keterangan :
-  Carilah azolla yang tumbuh di sawah dan perairan lainnya.
-  Siapkan kolam, petakan sawah atau bak plastic, kemudian genangi air setinggi 5-7 cm
-  Tambahkan pestisida Corbufuran misalnya furadan dengan takaran  0,2-0,3gr/m2 dan pupuk  SP 36 dengan takaran 6,5gr/m2
-  Taburkan bibit azolla  dengan takaran 50-70 gr/m2
- Biarkan selama 2 minggu atau lebih dengan menjaga ketinggian air. Azolla akan tumbuh menutupi permukaan air, selanjutnya siap dipanen.
Keterangan :
-   Siapkan bak plastic yang diisi tanah dengan ketinggian ± 2cm
-   Genangi air hingga ketinggian 2-3 cm
-   Taburkan spora azolla pada permukaan air dengan takaran 10 gr/m2
-   Biarkan wadah agar terkena cahaya
-   Spora selanjutnya akan berkecambah pada hari ke 10 & setelah 1 bulan akan menutup permukaan area. Pada saat tersebut azolla masih kecil
-   Pindahkan azolla pada bak yang lebih luas. Biarkan selama 2 minggu, maka akan diperoleh bibit azolla muda.
-   Selanjutnya dapat diperbanyak seperti halnya memperbanyak dengan menggunakan bibit tanaman muda

FERMENTASI AZOLLA DENGAN DEDAK UNTUK PAKAN IKAN
Keterangan :
-     Timbang azolla segar dengan dedak dengan perbandingan 70%:30%.
-     Campur dan aduk keduanya hingga homogen.
-     Masukan campuran ke dalam plastik atau kurung yang kedap air, kemudian ikat rapat.
-     Kantong selanjutnya dipendam dalam tanah dan ditutup rapat (anaerob). Biarkan masa fermentasi selama 3-4 hari.
-     Bongkar pendaman campuran azolla dan dedak hasil fermentasi. Hasil fermentasi dapat langsung diberikan pada ikan sebagai sumber protein.

Cara Budidaya Azolla

buat kolam terpal dan berikan lapisan tanah gembur/tanah liat kering  setebal 2 cm buat larutan kotoran sapi/kambing perbandingan 10 liter air dengan 2 kg kotoran sapi/kambing. taruh larutan diatas lapisan tanah dalam kolam isi kolam dengan air setinggi 5-10 cm dari atyas lapisan tanah tadi tebar azolla dan siram dengan pancuran kran air

Cara Menanam Azolla

Azolla termasuk tumbuhan aquatik yg mungil dan menawan, mudah di budidayakan dan cepat berkembang biak.
Dengan kandungan protein yang tinggi dan kaya akan vitamin, Azolla sangat baik bagi pertumbuhan ternak, ikan dan unggas. Selain itu azolla juga dapat di gunakan sebagai pupuk tanaman.
Cara Budidaya Azolla :
·      Siapkan lahan ukuran 2m x 1m
·      Isi dengan tanah & campuran pupuk kandang 50:50 setebal 5cm
·      Tambahkan pupuk SP 36 dengan takaran 6,5gr/m2
·      Isi dengan air kurang lebih 3 cm
·      Taburkan bibit azolla  dengan takaran 50-70 gr/m2
·      Biarkan selama 2 minggu atau lebih dengan menjaga ketinggian air.
·      Siramkan probiotik BIOCATFISH secara rutin 2 hari sekali, cukup 50ml/m2
·      Tunggu selama 2 minggu atau lebih dengan menjaga ketinggian air
·      Jika azolla sudah kelihatan menumpuk dan menebal menutupi permukaan kolam, menandakan siap dipanen.
·      Azolla dapat dipanen 1-2 minggu sekali, atau sesuai kebutuhan
·      Azolla untuk pakan ikan. Gurami, nila, bawal, Lele
·      Pemberian azolla kepada ikan lele sebaiknya dalam bentuk kering Jangan diberikan dalam bentuk basah. Hal ini penting dilakukan mengingat kadar air yang tinggi pada azolla yang jika dimakan ikan lele hanya akan mengeyangkan saja tetapi azolla yang dimakan proteinnya rendah. Alhasil ikan lele justru akan mengalami keterlambatan pertumbuhan.Mengapa hal ini bisa terjadi?? karena azolla yang basah dengan kandungan protein rendah jika dimakan oleh ikan, maka ikan akan merasa kenyang dengan cepat dan lama untuk lapar.Hal ini karena adanya serat seperti mekanisme kita jika memakan sayuran. Sehingga pakan pelet yang kita berikan justru akan sedikit dimakan oleh ikan lele. Kemudian pemberian azolla secara terus menerus juga kurang baik untuk pertumbuhan ikan. Walaupun ikan akan sehat tapi terkait dengan tinggkat perkembangan justru akan memperlambat. Mengapa hal ini bisa terjadi?? pemberian azolla secara terus menerus dalam keadaan basah menyebabkan ikan lele setiap saat akan terpenuhi kebutuhan pakannya. Saat ikan lele lapar sedikit saja maka azolla akan dimakan sedikit demi sedikit. Dan kita tau azolla basah kandungan proteinnya rendah. Jika ikan lele sudah kenyang hanya dari azolla. Sehingga jika kita memberikan pakan pelet dengan protein tinggi, alhasil pakan pelet kita tidak dimakan. Namun jika kita tangkap dan kita seser ikan kita. Kita akan mendapatkan ikan lele dengan perut yang gendut tapi miskin protein.
·      Sehingga disimpulkan pemberian azolla dalam bentuk basah kurang baik untuk pertumbuhan,sebaiknya diberikan dalam bentuk kering dengan protein yang tinggi. Namun diberikan ke dalam kolam klinik untuk menampung ikan yang sakit justru bisa sebagai diet yang baik untuk ikan lele. Ikan yang sakit memerlukan hijauan untuk memulihkan pencernaannya. Disinilah peran azolla sebagai pakan ikan yang sedang sakit.
·      Kesimpulan selanjutnya yaitu pemberian azolla baiknya dilakukan sebelum lele masuk atau perlakuan air kolam ikan selama 3-4 hari. Tujuannya yaitu untuk menetralkan air kolam ikan, menyerap polutan, dan menciptakan pakan alami didalam kolam. Setelah 4 hari dan dirasa air kolam sudah siap, angkat azolla dan pindahkan ke kolam lain, barulah ikan lele kita masukkan ke dalam kolam bekas azolla.
TIPS (dikumpulkan dari berbagai sumber) :
·      Sebagai pakan, Azolla sebaiknya diberikan kering(contoh kasus untuk lele-randifarm) terutama untuk ikan omnivora, tetapi pada contoh kasus yang lain, ikan herbivora(Gurame, Tawes, dll), ikan lebih menyukai bila azolla diberikan dalam kondisi segar dan itu boleh saja.
·      Pengeringan Azolla cukup diangin2kan, bila dijemur akan merusak nutrisi sejauh ini pemakaian azolla kering sudah terpakai sebagai campuran pellet dan pakan ternak(terbukti), pada ikan hanya pada ikan lele(data akan diupdate setelah ada info dr praktisi) (contoh kasus/subyektif) penempatan Azolla di kolam LELE tdk membuat LELE memakan Azolla, malah dimakan saat diberikan terpisah(dicampur pakan biasanya/pelet). Tp kalau di kolam GURAMI, Azolla Tidak Bisa Panjang Umur,karena bisa habis dalam sekejap
·      Penempatan Azolla dalam kolam ikan mampu meningkatkan kualitas air, karena kemampuan Azolla menyerap bahan berbahaya dalam air. AIR SEHAT=IKAN SEHAT=KANTONG SEHAT
kompos Azolla bisa digunakan sebagai media untuk media cacing lumbricus, dan azolla segarnya bisa untuk pakan. Cacing lumbricus sangat cepat dan mudah dibudidayakan, dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani ikan(dalam bentuk tepung atau hidup)
·      Cara, Waktu, Jumlah dalam penggunaan Azolla adalah relatif, subyektif, jadi jangan lelah untuk selalu mencoba mencari apa yg tepat untuk kebutuhan anda, “AZOLA BIAYA MINI HASIL MAXI“

Usaha Budidaya Azolla Microphylla
Azolla merupakan genus dari paku air mengapung suku Azollaceae. Terdapat tujuh spesies yang termasuk dalam genus ini, salah satu spesiensya adalah Azolla mirophylla. Azolla dikenal mampu bersimbiosis dengan alga biru-hijau Anabaena azollae dan mengikat nitrogen langsung dari udara. Potensi ini membuat Azolla baik digunakan sebagai pakan ternak dan pupuk hijau untuk tanaman. Pada kondisi optimal Azolla akan tumbuh baik dengan laju pertumbuhan 35% tiap hari. Nilai nutrisi Azolla mengandung kadar protein yang tinggi antara 24-30%. Kandungan asam amino essensialnya, terutama lisin 0,42% lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrat jagung, dedak, dan beras pecah (Arifin, 1996) dalam Akrimin 2002.
Meski sudah populer sejak awal tahun 1990-an, ternyata belum banyak petani membudidayakan dan memanfaatkan tanaman azolla (Azolla microphylla) untuk usaha taninya. Padahal manfaat tanaman air yang satu cukup banyak. Selain bisa untuk pupuk dan media tanaman hias, azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak dan pakan ikan. Di Bali, azolla biasa dan sering dijumpai terapung di perairan sawah dan kolam ikan. Karena dianggap gulma, para petani lantas menyingkirkannya. Ditumpuk dan dibuang begitu saja. Padahal, bila dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman padi di sawah, azolla ini bisa menekan penggunaan pupuk urea sampai 65 Kg/ha.

Manfaat Azolla
1.  Pengganti Pupuk Kimia
Pemanfaatan azolla sebagai pupuk ini memang memungkinkan. Pasalnya, bila dihitung dari berat keringnya dalam bentuk kompos (azolla kering) mengandung unsur Nitrogen (N) 3 - 5%, Phosphor (P) 0,5 - 0,9% dan Kalium (K) 2 - 4,5K. Sedangkan hara mikronya berupa Calsium (Ca) 0,4 - 1%, Magnesium (Mg) 0,5 - 0,6%, Ferum (Fe) 0,06 - 0,26% dan Mangaan (Mn) 0,11 - 0,16%. Berdasarkan komposisi kimia tersebut, bila digunakan untuk pupuk mempertahankan kesuburan tanah, setiap hektar areal memerlukan azolla sejumlah 20 ton dalam bentuk segar, atau 6-7 ton berupa kompos (kadar air 15 persen) atau sekitar 1 ton dalam keadaan kering. Bila azolla diberikan secara rutin setiap musim tanam, maka suatu saat tanah itu tidak memerlukan pupuk buatan lagi.
Untuk membuat kompos azolla, caranya cukup mudah. Buat saja lubang ukuran (P x L x D) 3 x 2 x 2 meter. Kemudian azolla segar dimasukkan ke dalam lubang. Seminggu kemudian azolla dibongkar. Untuk mengurangi kadar air menjadi 15 persen, azolla yang sudah terfermentasi tersebut lantas dijemur. Setelah agak kering, baru dikemas dalam kantong plastik atau langsung digunakan sebagai media tanam.

2. Pakan ternak dan ikan
Azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, khususnya itik dan beragam jenis ikan omnivora dan herbivora. Sebagai pakan ternak, kandungan gizi azolla cukup menjanjikan. Kandungan protein misalnya, mencapai 31,25%, lemak 7,5%, karbohidrat 6,5%, gula terlarut 3,5% dan serat kasar 13%. Bila digunakan untuk pakan itik, penggunaan azolla segar yang masih muda (umur 2 - 3 minggu) dicampur dengan ransum pakan itik. Berdasarkan hasil penelitian, campuran azolla 15 persen ke dalam ransum ini bisa menekan 15 persen biaya pembelian pakan itik. Tentu saja hal ini cukup menguntungkan peternak karena bisa mengurangi biaya pembelian pakan itik.
Berdasarkan kajian di lapangan, dalam keadaan segar azolla bisa diberikan untuk pakan ikan gurami, tawes, nila dan karper. Dengan pemberian pakan berupa azolla, terbukti ikan tetap bisa tumbuh pesat. Tak kalah dengan ikan lainnya yang diberi pakan buatan berupa pelet.Di saat harga pupuk, pakan ternak dan pakan ikan mahal seperti saat ini, tak ada salah bila azolla ini menjadi salah satu alternatif pilihan usaha yang secara finansial cukup menguntungkan. Kata yang paling tepat adalah usaha budidaya Azolla baik untuk dibisniskan.
Sumber :http://www.wirausahaimpian.com/2013/09/usaha-budidaya-azolla-microphylla.html

Azolla Microphylla Pakan Kambing Sapi Alternatif Tanpa Ngarit  Azolla Microphylla Pakan Kambing Sapi Alternatif Tanpa Ngarit

Macam jenis pakan alternatif bagi kambing peliharaan anda, negara kita merupakan negara kepulauan terbanyak, yang memiliki berbagai macam ragam ekosistem baik hutan,tanah, rumput,dll, oleh sebab itu hampir disetiap daerah memiliki berbagai macam jenis pakan, disini akan diulas mengenai jenis dan macam pakan kambing yang ada.. .
Pakan Hijau-hijauan (rumput, legume & dedaunan)
Pakan hijauan terdiri dari macam jenis, yaitu pakan dari rumput-rumputan, pakan dari legume. dan dari dedaunan, Pakan rumput-rumputan diantaranya rumput gajah, rumput benggala, rumput raja dan turi. untuk pakan legume antara lain seperti lamtoro, kaliandra, kacang-kacangan, dan harendong, dan untuk pakan dedaunan ada daun nangka, daun jagung, jerami, daun mangga, daun, kersen, dll. daun-daunan hijau lebih disukai oleh kambing dibandingkan rumput. Komposisi masing-masing pakan tergantung pada kebutuhan ternak, yaitu antara kambing menyusui, pemacek dan dewasa.
Campuran daun-daunan dan rumput dengan perbandingan 1 : 1 akan saling melengkapi dan menjamin ketersediaan gizi yang lebih baik. Di samping itu, kambing tidak cepat bosan melahap pakan hijau yang tersedia. Hindari pemberian hijauan yang masih muda. Jika terpaksa digunakan hendaknya diangin-anginkan terlebih dahulu selama 3-4 jam, untuk menghindari terjadinya bloat (kembung) pada kambing.
 Pakan Limbah Industri dan Pertanian/alternative
Selain pakan hijauan, kambing juga menyukai pakan yang berasal dari limbah pertanian. Limbah industri yang dapat dijadikan pakan antara lain seperti ampas tahu, ampas tempe, ampas singkong, bungkil kedelai, bungkil kacang tanah, dedak padi, dan dedak jagung. Sementara contoh limbah pertanian antara lain seperti jerami padi, jerami jagung, daun singkong, daun nangka dan limbah kelapa.
Pakan Tambahan Pakan tambahan berguna untuk memenuhi kebutuhan mineral dan meningkatkan nafsu makan. Selain itu, pakan tambahan ini bermanfaat untuk menutupi kekurangan zat gizi yang terdapat pada hijauan. Sumber pakan tambahan berupa campuran mineral  (mineral mix) dari garam dapur, kapur, dan premix. Nantikan tips2 selanjutnya, keberhasilan tak luput dari saran dan kritikan,
Manfaat azolla microphylla untuk pakan alternatif  ternak kambing ternak sapi ternak bebek ternak unggas dan juga untuk pakan ikan
Pengertian  Azolla microphylla, telah kita bahas dalam artikel yang lain, banyak sekarang kita bahas pemanfaataannya. Kita akan bahas beberapa manfaat azolla microphylla untuk pakan alternatif ternak kambing, baik itu kambing etawa kambing gibas kambing jawa randu kambing merino kambing dan jenis kambing yang lain. manfaat azolla microphylla sebagai alternatif pakan ternak sapi, manfaat azolla microphylla sebagai pakan alternatif ikan, manfaat azolla microphylla sebagai alternatif pakan babi, manfaat azolla microphylla sebagi pakan alternatif unggas seperti ayam, bebek , itik , dan lain lain.
1. azolla microphylla sebagai pakan alternatif pakan organik  Ikan gura/ ikan nila / ikan lele 
Azolla microphylla dapat mengurangi atau menghemat penggunaan pakan pabrikan hingga 30%,, namun menurut beberapa literatur penggunaan dalam pakan biasanya sekitar 15% untuk lele. penggunaan dalam bentuk segar bisa diberikan untuk ikan gurami, ikan tawes dan ikan nila. Azolla microphylla dapat digunakan sebagai pakan alternatif organik bagi semua jenis ikan, sepeti ikan gurami ikan lele, ikan tawes dan ikan ikan yang lain
2. azolla microphylla sebagai pakan alternatif pakan organik  Unggas
menurut buku Penerapan Pertanian Organik yang ditulis oleh Rachman Sutanto Azolla bisa  dimanfaatkan untuk campuran pakan ayam,  dan itik, namu tetap dibatasi sekitar 15%, karena dapat mengganggu produktivitas telur. Penggunaan untuk itik bisa digunakan azolla segar umur 2-3 minggu dicampur dengan ransum itik atau bebek
3. azolla microphylla sebagai pakan alternatif pakan organik  Ruminansia seperti sapi kambing kelinci dan hewan ruminansia yang lain
Azolla dapat dimanfaatkan dalam bentuk segar, kering maupun fermentasi. bisa menggantikan hijauan untuk sapi dan dedak padi untuk babi. Kambing dan sapi menyukai azolla basah, jika digunakan campuran dalam bentuk kering maka biasanya sebagai pelengkap sumber protein.
Percobaan untuk sapi perah, penggunaan azolla 1.5 – 2 kg/hari dapat meningkatkan produksi susu sebesar 15%.


 Usaha Budidaya Azolla Microphylla

Azolla merupakan genus dari paku air mengapung suku Azollaceae. Terdapat tujuh spesies yang termasuk dalam genus ini, salah satu spesiensya adalah Azolla mirophylla. Azolla dikenal mampu bersimbiosis dengan alga biru-hijau Anabaena azollae dan mengikat nitrogen langsung dari udara. Potensi ini membuat Azolla baik digunakan sebagai pakan ternak dan pupuk hijau untuk tanaman. Pada kondisi optimal Azolla akan tumbuh baik dengan laju pertumbuhan 35% tiap hari. Nilai nutrisi Azolla mengandung kadar protein yang tinggi antara 24-30%. Kandungan asam amino essensialnya, terutama lisin 0,42% lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrat jagung, dedak, dan beras pecah (Arifin, 1996) dalam Akrimin 2002.
Meski sudah populer sejak awal tahun 1990-an, ternyata belum banyak petani membudidayakan dan memanfaatkan tanaman azolla (Azolla microphylla) untuk usaha taninya. Padahal manfaat tanaman air yang satu cukup banyak. Selain bisa untuk pupuk dan media tanaman hias, azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak dan pakan ikan. Di Bali, azolla biasa dan sering dijumpai terapung di perairan sawah dan kolam ikan. Karena dianggap gulma, para petani lantas menyingkirkannya. Ditumpuk dan dibuang begitu saja. Padahal, bila dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman padi di sawah, azolla ini bisa menekan penggunaan pupuk urea sampai 65 Kg/ha.

Manfaat Azolla
1.    Pengganti Pupuk Kimia
Pemanfaatan azolla sebagai pupuk ini memang memungkinkan. Pasalnya, bila dihitung dari berat keringnya dalam bentuk kompos (azolla kering) mengandung unsur Nitrogen (N) 3 - 5%, Phosphor (P) 0,5 - 0,9% dan Kalium (K) 2 - 4,5K. Sedangkan hara mikronya berupa Calsium (Ca) 0,4 - 1%, Magnesium (Mg) 0,5 - 0,6%, Ferum (Fe) 0,06 - 0,26% dan Mangaan (Mn) 0,11 - 0,16%. Berdasarkan komposisi kimia tersebut, bila digunakan untuk pupuk mempertahankan kesuburan tanah, setiap hektar areal memerlukan azolla sejumlah 20 ton dalam bentuk segar, atau 6-7 ton berupa kompos (kadar air 15 persen) atau sekitar 1 ton dalam keadaan kering. Bila azolla diberikan secara rutin setiap musim tanam, maka suatu saat tanah itu tidak memerlukan pupuk buatan lagi.
Untuk membuat kompos azolla, caranya cukup mudah. Buat saja lubang ukuran (P x L x D) 3 x 2 x 2 meter. Kemudian azolla segar dimasukkan ke dalam lubang. Seminggu kemudian azolla dibongkar. Untuk mengurangi kadar air menjadi 15 persen, azolla yang sudah terfermentasi tersebut lantas dijemur. Setelah agak kering, baru dikemas dalam kantong plastik atau langsung digunakan sebagai media tanam.
2.    Pakan ternak dan ikan
Azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, khususnya itik dan beragam jenis ikan omnivora dan herbivora. Sebagai pakan ternak, kandungan gizi azolla cukup menjanjikan. Kandungan protein misalnya, mencapai 31,25%, lemak 7,5%, karbohidrat 6,5%, gula terlarut 3,5% dan serat kasar 13%. Bila digunakan untuk pakan itik, penggunaan azolla segar yang masih muda (umur 2 - 3 minggu) dicampur dengan ransum pakan itik. Berdasarkan hasil penelitian, campuran azolla 15 persen ke dalam ransum ini bisa menekan 15 persen biaya pembelian pakan itik. Tentu saja hal ini cukup menguntungkan peternak karena bisa mengurangi biaya pembelian pakan itik.
Berdasarkan kajian di lapangan, dalam keadaan segar azolla bisa diberikan untuk pakan ikan gurami, tawes, nila dan karper. Dengan pemberian pakan berupa azolla, terbukti ikan tetap bisa tumbuh pesat. Tak kalah dengan ikan lainnya yang diberi pakan buatan berupa pelet.Di saat harga pupuk, pakan ternak dan pakan ikan mahal seperti saat ini, tak ada salah bila azolla ini menjadi salah satu alternatif pilihan usaha yang secara finansial cukup menguntungkan. Kata yang paling tepat adalah usaha budidaya Azolla baik untuk dibisniskan.
Sumber :http://www.wirausahaimpian.com/2013/09/usaha-budidaya-azolla-microphylla.html
Azolla sebagai sumber pakan itik berprotein tinggi
Azolla merupakan satu-satunya genus dari paku air mengapung suku Azollaceae. Terdapat tujuh spesies yang termasuk dalam genus ini. Suku Azollaceae sekarang dianjurkan untuk digabungkan ke dalam suku Salviniaceae, berdasarkan kajian morfologi dan molekular dari Smith et al. (2006)
Azolla dikenal mampu bersimbiosis dengan bakteri biru-hijau Anabaena azollae dan mengikat nitrogen langsung dari udara. Potensi ini membuat Azolla digunakan sebagai pupuk hijau baik di lahan sawah maupun lahan kering. Pada kondisi optimal Azolla akan tumbuh baik dengan laju pertumbuhan 35% tiap hari. Nilai nutrisi Azolla mengandung kadar protein tinggi antara 24 – 30%. Kandungan asam amino essensialnya, terutama lisin 0,42% lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrat,  jagung, dedak, dan beras pecah (Arifin, 1996) dalam Akrimin 2002.
Tujuh jenis Azolla :
Asia
·      Azolla japonica Franch. & Sav. dari Jepang
·      Azolla filiculoides Lam.
·      Azolla pinnata R. Br. dari Asia Tenggara, juga dari Afrika
Afrika
·      Azolla nilotica Dcne. ex Mett.
Amerika
·      Azolla caroliniana Willd., dari Amerika Utara
·      Azolla mexicana Presl., dari Meksiko
·      Azolla microphylla Kaulf
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kandungan Nutrisi Azolla
Meski sudah diperkenalkan dan dipopulerkan sejak awal tahun 1990-an, ternyata belum banyak petani yang memanfaatkan tanaman azolla (Azolla pinnata) untuk usaha taninya. Padahal manfaat tanaman air yang satu ini cukup banyak. Selain bisa untuk pupuk dan media tanaman hias, azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak dan ikan. Di Bali, azolla  sering dijumpai terapung di perairan, sawah dan kolam ikan. Karena dianggap gulma, para petani lantas menyingkirkannya. Ditumpuk dan dibuang begitu saja.
Azolla sp. banyak terdapat di perairan yang tergenang terutama di sawah-sawah dan di kolam, mempunyai permukaan daun yang lunak mudah berkembang dengan cepat dan hidup bersimbosis dengan Anabaena azollae yang dapat memfiksasi Nitrogen (N2) dari udara.
    Selain untuk pupuk dan media tanam, azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, khususnya itik dan beragam jenis ikan omnivora dan herbivora. Sebagai pakan ternak, kandungan gizi azolla cukup menjanjikan. Kandungan protein misalnya, dapat mencapai 31,25 persen, lemak 7,5 persen, karbohidrat 6,5 persen, gula terlarut 3,5 persen dan serat kasar 13 persen.
   Bila digunakan untuk pakan itik, penggunaan azolla segar yang masih muda (umur 2 – 3 minggu) dicampur dengan ransum pakan itik. Berdasarkan hasil penelitian, campuran azolla 15 persen ke dalam ransum ini, terbukti tidak berpengaruh buruk pada itik. Maksudnya, itik tetap menyantap pakan campuran azolla ini dengan lahapnya. Produksi telur, berat telur dan konversi pakan juga tetap normal. Ini berarti penggunaan azolla bisa menekan 15 persen biaya pembelian pakan itik. Tentu saja hal ini cukup menguntungkan peternak karena bisa mengurangi biaya pembelian pakan itik.
   Hasil percobaan lainnya, penggunaan probiotik dan Azolla sp. dalam pakan terhadap pertambahan bobot badan dan karkas itik pejantan (alabio) sampai umur 11 minggu menjunjukan bahwa pemberian Azolla 5% dan probiotik dapat meningkatkan perambahan bobot badan sebesar 1.577,20 gram/ekor, bobot karkas 800,50 gram/ekor dan menurunkan konversi pakan menjadi 7,70 dibanding perlakuan lainnya, walaupun konsumsi pakan tidak berbeda antar perlakuannya. Hal ini menunjukan bahwa Azolla dapat dipertimbangkan sebagai bahan campuran pakan mengingat potensinya yang cukup melimpah.

MENGENAL AZOLLA
Azolla sp. adalah jenis tumbuhan paku air yang mengapung banyak terdapat di perairan yang tergenang terutama di sawah-sawah dan di kolam, mempunyai permukaan daun yang lunak, mudah berkembang dengan cepat dan hidup bersimbosis dengan Anabaena azollae yang dapat memfiksasi Nitrogen (N­­2) dari udara.
Gambar 1. Azolla
Pada kondisi optimal azolla akan tumbuh baik dengan laju pertumbuhan 35% tiap hari Nilai nutrisi azolla mengandung kadar protein tinggi antara 24-30%. Kandungan asam amino essensialnya, terutama lisin 0,42% lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrat jagung, dedak, dan beras pecah (Arifin, 1996).
Seiring dengan perkembangan pupuk hijau, penggunaan azolla ini kini lebih banyak dimanfaatkan untuk budidaya perikanan. Dengan adanya kegiatan budidaya ikan mina padi dengan azolla, selain menjadikannya sebagai pakan perikanan juga konstribusi dapat digunakan untuk peningkatan produksi padi.
KEMAMPUAN AZOLLA SEBAGAI SUMBER PENYUMBANG NITROGEN
Suatu penelitian internasional di mana Indonesia (Batan) ikut terlibat yang disponsori oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA-Wina) menggunakan 15N menunjukkan bahwa azolla yang bersimbiosis dengan Anabaena azollae dapat memfiksasi N2-udara dari 70% – 90%. N2-fiksasi yang terakumulasi ini yang dapat digunakan sebagai sumber N bagi padi sawah.
Dari beberapa penelitian diperoleh bahwa laju pertumbuhan azolla adalah 0,355 – 0,390 gram per hari (di laboratorium) dan 0,144 – 0,860 gram per hari (di lapang). Pada umumnya biomassa azolla maksimum tercapai setelah 14 – 28 hari setelah inokulasi. Dari hasil penelitian Batan diketahui bahwa dengan menginokulasikan 200 g azolla segar per m2 maka setelah 3 minggu, Azolla tersebut akan menutupi seluruh permukaan lahan tempat azolla tersebut ditumbuhkan.
Dalam keadaan ini dapat dihasilkan 30 – 45 kg N/ha berarti sama dengan 100 kg urea. Ditemukan juga bahwa azolla tumbuh kembang lebih baik pada musim penghujan daripada musim kemarau.
BUDIDAYA AZOLLA
Budidaya azolla dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu menumbuhkan azolla dari bibit muda dan dari spora.
1. Dengan Bibit Tanaman Muda
-  Carilah azolla yang tumbuh di sawah dan perairan lainnya.
-  Siapkan kolam, petakan sawah atau bak plastik, kemudian genangi air setinggi 5 – 7 cm.
-  Tambahkan pestisida Corbufuran misalnya furadan dengan takaran 0,2 – 0,3gr/m2 dan pupuk SP 36 dengan takaran 6,5 gr/m2.
-  Taburkan bibit azolla dengan takaran 50 – 70 gr/m2.
-  Biarkan selama 2 minggu atau lebih dengan menjaga ketinggian air. Azolla akan tumbuh menutupi permukaan air, selanjutnya siap dipanen.
2. Dengan Spora
-   Siapkan bak plastik yang diisi tanah dengan ketinggian + 2 cm.
-  Genangi air hingga ketinggian 2 – 3 cm.
-  Taburkan spora azolla pada permukaan air dengan takaran 10 gr/m2.
- Biarkan wadah agar terkena cahaya.
- Spora selanjutnya akan berkecambah pada hari ke-10, dan setelah 1 bulan akan menutup permukaan area. Pada saat tersebut azolla masih kecil.
-  Pindahkan azolla pada bak yang lebih luas. Biarkan selama 2 minggu, maka akan diperoleh bibit azolla muda.
-  Selanjutnya dapat diperbanyak seperti halnya memperbanyak dengan menggunakan bibit tanaman muda.
FERMENTASI AZOLLA DENGAN DEDAK UNTUK PAKAN IKAN
Azolla sebagai sumber protein dapat digunakan sebagai sumber pakan alternatif untuk ikan. Sebelum azolla digunakan sebagai sumber pakan, sebaiknya terlebih dahulu dilakukan fermentasi dengan campuran bahan pakan yang lain misalnya dedak. Fermentasi dilakukan untuk mempermudah ikan dalam mencerna protein yang terdapat dalam azolla dan dedak karena ikan tergolong ke dalam hewan usus pendek.
Adapun langkah-langkah dalam fermentasi azolla adalah:
-  Timbanglah azolla segar dan dedak dengan perbandingan 70%:30%.
-  Campur dan aduk kedua bahan hingga homogen.
-  Masukan campuran ke dalam plastik atau karung yang kedap air, kemudian diikat rapat.
-  Kantong selanjutnya dipendam dalam tanah dan ditutup rapat (anaerob). Biarkan masa fermentasi selama 3 – 4 hari.
-   Bongkar pendaman campuran azolla dan dedak hasil fermentasi. Hasil fermentasi dapat langsung diberikan pada ikan sebagai sumber pakan.
MANFAAT TANAMAN AZOLLA
Meski sudah diperkenalkan dan dipopulerkan sejak awal tahun 1990-an, ternyata belum banyak petani yang memanfaatkan tanaman azolla (Azolla pinnata) untuk usaha taninya.  Padahal manfaat tanaman air yang satu cukup banyak. Selain bisa untuk pupuk dan media tanaman hias, azolla juga  bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak dan ikan.
Pengganti Urea
Pemanfaatan azolla sangat memungkinkan untuk dijadikan pupuk. Hal itu dikarenakan jika dihitung dari berat keringnya dalam bentuk kompos  (azolla kering) mengandung unsur Nitrogen (N) 3 – 5 persen, Phosphor  (P) 0,5% -  0,9% dan Kalium (K)  2% – 4,5%. Sedangkan hara mikronya berupa Calsium (Ca)  0,4% – 1%, Magnesium (Mg) 0,5%  – 0,6%, Ferum (Fe) 0,06%  – 0,26%  dan Mangan (Mn) 0,11% – 0,16%.
Berdasarkan komposisi kimia tersebut, bila digunakan untuk  pupuk mempertahankan kesuburan tanah, setiap hektar areal memerlukan azolla  sejumlah 20 ton dalam bentuk segar, atau 6-7 ton berupa kompos (kadar air 15  persen) atau sekitar 1  ton dalam keadaan kering. Bila azolla diberikan secara rutin setiap musim tanam,  maka  suatu saat tanah itu tidak memerlukan pupuk buatan lagi.
Hal itu dimungkinkan, karena  pada penebaran pertama 1/4 bagian  unsur yang dikandung  azolla langsung dimanfaatkan oleh tanah. Seperempat bagian ini, setara dengan 65 Kg pupuk Urea. Pada musim tanam ke-2 dan ke-3, azolla mensubstitusikan   1/4  – 1/3  dosis pemupukan.
Untuk Media Tanam
Penggunaan sebagai pupuk, selain dalam bentuk segar,  bisa  juga dalam bentuk kering  dan kompos. Dalam bentuk kompos ini, azolla juga baik untuk media tanam aneka jenis tanaman hias mulai dari bonsai, suplir, kaktus sampai mawar. Untuk media tanaman hias, selain digunakan secara langsung, kompos azdolla ini juga bisa dengan pasir dan tanah kebun dengan perbandingan 3 : 1 : 1.
Pakan Ternak
Selain untuk pupuk dan media tanam, azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, khususnya itik. Sebagai pakan ternak, kandungan gizi azolla cukup menjanjikan. Kandungan protein misalnya, mencapai 31,25%, lemak 7,5%, karbohidrat 6,5%, gula terlarut 3,5% dan serat kasar 13%. Sumber: Karya Ilmiah Praktek Akhir “Pembinaan Kelompok Melalui Penyuluhan Partisipatif Pada Usaha Pembenihan Ikan Nila Merah di Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman Provinsi DI Yogyakarta 2010″